Menggali Sejarah dan Strategi Geopolitik Selat Bosporus Kunci Penghubung Asia dan Eropa
Fika Komara
Akhirnya Allah SWT perjalankan saya ke satu lokasi bersejarah yang sangat strategis. Sebuah selat yang sangat sempit, bahkan lebih sempit dari Selat Madura atau Selat Sunda. Dia adalah Selat Bosporus di Istanbul, Turki. Butuh waktu bagi saya untuk menuliskan catatan perjalanan ini karena muatan sejarah sekaligus aspek geostrategisnya yang sangat dalam.
Selat Bosporus: Bersejarah dan Strategis
Selat Bosporus bukan hanya bersejarah, tapi juga sangat strategis secara geopolitik. Sejak masa Sultan Muhammad al-Fatih hingga hari ini, jalur chokepoint ini menjadi saksi manuver-manuver politik penguasa Muslim di berbagai era.
Jarak Sejengkal Antara Asia dan Eropa
Di kananmu Eropa, di kirimu Asia. Ya, persis seperti itulah gambaran perjalanan menyusuri Selat Bosporus. Hari itu, riak lautnya sangat indah saat kami mengikuti tur Bosporus dengan kapal ferry. Pemandangan perumahan padat khas Turki di seberang selat terasa dekat karena hanya berjarak kurang lebih 1 km, ini bahkan lebih sempit dari Selat Madura yang dihubungkan oleh Jembatan Suramadu sepanjang 5,4 km.
Bosporus memang memisahkan Turki bagian Eropa dan Asia, serta menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam. Selat ini memiliki dua jembatan besar: Jembatan Bosphorus sepanjang 1,07 km (dibangun pada tahun 1973) dan Jembatan Fatih Sultan Mehmet sepanjang 1,09 km (dibangun pada tahun 1988). Kedua jembatan ini berjarak sekitar 5 km satu sama lain.
Dengan panjang 30 km, lebar maksimum 3.700 meter di bagian utara, dan lebar minimum 750 meter antara Anadolu Hisarı (Benteng Anadolu) dan Rumeli Hisarı (Benteng Rumelia), selat ini memiliki kedalaman antara 36 hingga 124 meter, menjadikannya selat yang dangkal dan sempit tetapi sangat ramai. Berbagai kapal, selain ferry yang kami naiki, termasuk kapal tanker, kapal kargo, bahkan kapal militer dari negara-negara sekitar Laut Hitam, juga sering melintas di selat ini.
Saksi Nubuwat Penaklukan Konstantinopel
Abu Qubail meriwayatkan bahwa Abdullah berkata, “Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah?” Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah, dan al-Hakim).
Inilah nubuwat yang menjadi motivasi terbesar Sultan Muhammad II bin Bayazid atau yang dikenal dengan Sultan Muhammad Al-Fatih untuk membebaskan Konstantinopel. Ia berhasil menaklukkan kota ini pada tahun 1453 M. Namun, penaklukan ini bukanlah hal mudah. Sang Sultan melakukan persiapan panjang yang matang agar kegagalan yang dialami para pendahulunya tidak terulang.
Salah satu persiapannya adalah mendirikan Rumeli Hisari (Benteng Rumelia) di Selat Bosporus. Sultan Al-Fatih memutuskan untuk memutus urat nadi utama Konstantinopel, yaitu Selat Bosporus, yang menjadi jalur utama perdagangan dan transportasi bagi kota itu. Rumeli Hisari dibangun pada tahun 1451 M, sekitar dua tahun sebelum penaklukan Konstantinopel. Benteng ini memiliki tinggi 82 meter dengan menara besar yang dibangun oleh 5.000 pekerja. Sementara itu, di sisi Benua Asia berdiri Anadolu Hisari (Benteng Anatolia) yang dibangun oleh Sultan Bayazid I, ayah Sultan Al-Fatih, pada tahun 1394 M.
Pembangunan benteng ini menunjukkan kesadaran geopolitik yang tinggi dari Sultan Al-Fatih. Ia memahami bahwa Islam tidak akan berada dalam posisi yang kuat jika ia tidak bisa melintasi Benua Asia menuju Benua Eropa di dekat Konstantinopel dengan aman. Laut Dardanella di selatan berada di bawah kendali Angkatan Laut Italia. Oleh karena itu, Sultan Al-Fatih merasa perlu menguasai Selat Bosporus untuk memotong pasokan makanan dan logistik yang dikirimkan oleh koloni Yunani di wilayah Laut Hitam ke Konstantinopel. Dengan demikian, selat ini menjadi saksi dari terwujudnya bisyarah (kabar gembira) Rasulullah SAW.
Bosporus Hari Ini: Chokepoint Strategis
Di era modern, Montreux Convention 1936 memberikan Turki sebagian kendali atas Selat Bosporus, terutama terkait transit kapal perang di Laut Hitam. Setelah Perjanjian Lausanne pada tahun 1923, Turki menyerahkan sisa wilayah Khilafah Utsmani dan sebagai gantinya, Sekutu mengakui kedaulatan Turki dengan batasan-batasan baru, termasuk pengalihan kontrol atas Selat Dardanelles dan Bosporus untuk pelayaran sipil dan militer, di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa (LBB).
Konvensi Montreux pada tahun 1936 memberikan Turki hak untuk mengatur lalu lintas di Bosporus selama masa damai, membatasi kapal militer yang bukan berasal dari negara-negara sekitar Laut Hitam. Dalam masa perang, Turki berhak menutup Selat Bosporus untuk semua kapal perang asing atau kapal dagang yang dianggap membawa ancaman. Namun, konvensi ini memicu ketegangan, terutama dari Rusia yang ingin memastikan akses militernya ke Laut Mediterania.
Sedikit kendali ini membuat Turki dapat melakukan tindakan tertentu terhadap Rusia dalam konteks konflik Suriah. Pada akhir tahun 2015, Turki menggunakan haknya untuk menutup Selat Bosporus dan Dardanelles bagi kapal-kapal milik Rusia. Rusia adalah pengguna utama jalur ini untuk perdagangan dan transfer peralatan militer menuju Suriah. Jika Turki menutup jalur ini, armada Laut Hitam Rusia akan terisolasi dan harus menempuh rute alternatif yang jauh lebih panjang melalui Selat Gibraltar. Perjalanan yang biasanya memakan waktu empat hari bisa menjadi dua minggu, membuat Rusia kehilangan banyak waktu dan sumber daya ekonomi.
Sedikit tekanan ini saja sudah membuat lawan kerepotan karena harus menempuh rute memutar. Ini adalah contoh dari pentingnya chokepoint strategis, yaitu titik yang sangat mudah diblokir sehingga bisa membatasi pergerakan lawan. Setiap alternatif dari chokepoint ini berarti waktu dan biaya yang lebih besar bagi pengguna, seperti yang dijelaskan oleh Rodriguez (2004).
Kekayaan Pertahanan Dunia Islam
Inilah salah satu kekayaan strategis yang dimiliki dunia Islam. Ketika potensi wilayah ini disadari umat Islam dan dikelola dengan baik oleh kepemimpinan Islam, maka ini akan menjadi kekuatan besar bagi pertahanan dunia Islam. Banyak selat penting lainnya, seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar, juga berada di wilayah negara-negara Islam.
Idealnya, masyarakat yang baik adalah yang memiliki kesadaran geopolitik tinggi, atau disebut spatially enabled society. Begitu juga dengan negara yang ideal, yaitu negara dengan visi geopolitik, dikenal sebagai spatially enabled government. Kombinasi kesadaran ini antara masyarakat dan pemimpin akan mendukung terwujudnya peradaban yang tinggi, terutama jika didukung oleh kekuatan ideologinya. Dalam sejarah, ketika Islam dipimpin oleh sosok seperti Sultan Muhammad al-Fatih yang memiliki visi geopolitik, selat seperti Bosporus dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan Islam melalui dakwah dan jihad, tanpa campur tangan kekuatan asing seperti yang kita lihat saat ini.
Penutup
Rasulullah SAW bersabda: “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).
Hadis ini mencerminkan visi geopolitik Islam yang sangat luas. Umat Islam memiliki kewajiban untuk membawa dakwah ke seluruh umat manusia di penjuru bumi. Umat Islam harus memiliki pemahaman yang baik tentang kondisi dunia, motif politik berbagai negara, dan aktivitas-aktivitas politik global.
Semoga perjalanan menyusuri Selat Bosporus ini mengajarkan kita tentang pentingnya kesadaran geopolitik dalam Islam. Dengan memetik hikmah dari sejarah dan strategi di Bosporus, kita dapat bermimpi dan berupaya menjadikan Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, Sel at Makassar, dan selat-selat lainnya di Nusantara sebagai jalur strategis yang memberikan kekuatan besar bagi Islam. Insya Allah, suatu hari nanti Nusantara bisa menjadi pusat kekuatan Islam di wilayah maritim yang menorehkan sejarah besar seperti Bosporus.
Wallahu a’lam bishshawab
Fika Komara, CEO Institut Muslimah Negarawan
.png)
Comments
Post a Comment